Huhhhh! Rasanya pengen kuhajar habis-habisan nih orang! Amat sangat
super duper menyebalkan! Maha menyebalkan! Kalau ada ungkapan atau
diksi lain yang lebih tinggi dari kata “Maha” untuk menunjukkan suatu
nilai yang paling tinggi, pasti ku gunanakn kata itu. Pendek kata,
sudah tak ada secuil pun yang patut kubanggakan dan ku perhitungkan.
Bahkan di mataku kini, di hatiku, ia nggak lebih dari seonggok daging
tambun yang amat menjijikkan, jelek, bau, dengan gaya bicara yang
nyeplos sekena mulut keringnya, nggak peduli aku ini tersinggung atau
enggak, terasa nylekit atau enggak, pokoknya seenak perutnya sendiri!
kalau diajak berpikir tentang sesuatu, seremeh apapun, mesti bibirnya
manyun, dahinya berkerut-kerut, ndomblong, persis kaleng rongsok yg
bungkam membisu nunggu ditabuh untun mengeluarkan suara krompyang yang
sangat cempreng dan memekakkan telinga! Pikirannya cupet, cara
bicaranya ra mutu blas,penampilannya sangat tidak ada indah-indahnya
untuk dipelototi.
Ah, sementara penampilanku kata banyak orang sih
begitu tampan, wangi. Gaya bicaraku dan bahasa tubuhku kata mereka lagi
sih begitu smart, elegan, penuh chemistry, misteri sekaligus magnet
berdaya sedot sangat tinggi.
Nggak heran kalau banyak yang
klepek-klepek ma kamu tuh, kata temanku. Kepalaku sprti menggelembung
bak balon di hembus oksigen. "liat aja tuh cewek di sebelah kanan pojok
itu, yang pake lekton itu, dari tadi dia ngelirik kesini terus. Ya ke
kamu ini” lanjutnya.
Aku melirik ke arah yang di tunjukkan temanku.
Hmmmmm, si lekton (kelek katon alias you can see my ketek, its open up
to you all)itu, dengan asap rokok yang menari-nari dari hembusan
bibirnya yang merah seksi itu. Memang nggak cuma kamu kok yang bilang
gitu pren, gumamku. Juga bukan hanya cewek trendi itu doang yang
melirik penuh syahwat begitu padaku. Banyak banget di luaran sana!
Berkarung-karung deh kalo mau di karungin.
Sementara disini, ah,
sungguh menyebalkan kelakuan dan penampilan orang rumahku itu. Yang
gini-gini nih, nggak hanya sekali ini, ratusan kali deh. Aku bertahan
sejauh ini dengannya entah untuk apa dan mengapa juga aku nggak begitu
ngerti juga kadang. Padahal beratus-ratus kali aku bertabrakan dengan
egonya yang menggila yang sungguh keras kepala.
Jujur nih, semalam
nyaris aja aku mencukupkan semua sampai disini. Jengkelku meledak
tinggi, egoku memekik. Bayangkan, mana bisa tahan seorang lelaki yang
normal, yang telah merasa memberikan segala terbaik untuknya, yang
nggak pernah bilang nggak punya atas segala pintanya, hnya karena minta
dibuatkn mi goreng telur yg semua bahannya sudah tersedia komplit, eh..
malah di cuekkin. Nggak di anggep blas! Nyakitin gak? Nyebelin gak?
Nyebahi mboten tho??? Banget banget nget nget nget…. Bahkan sampai
merasuk panas ke pangkal perutku. Betul-betul sikap acuh yang luar
biasa melecehkan harga diri dan kemuliaanku sebagai sang imam disini!
Kukira
dia nggak dengar, jadi dengan nada agak tinggi kuulangi permintaanku,
“denger gak sih?” ohmy God! Tau nggak, gimana mulut samber nyahut
“Males..”. iiiihhhhhh …..!!!!!! aku hanya bisa mendengus menahan murka
atas pelecehan tak terperikan ini! Paling jauh aku hanya memukul-mukul
bantal.
Dan, maam itu aku memutuskan diam. Membekapkan diri
dalam sunyi mencekam, ditingkahi gemuruh dada yang menghalilintar. Aku
terasa sepi dalam kesendirian begini, hanya suara egoku yang begitu
ramai berisik penuh amarah ! saat-saat seperi ini menderu, diam-diam
kian terngiang bisikan penuh semangat temanku yang berbadan gagah, yang
telah berkali-kali nikah cerai itu. “ wanita itu, asal kau buat
tergantung kebutuhannya padamu, selesailah dia mau kau jadikan apa aja.
Apapun kawan !!”
“kalau ternyata nggak bisa, berarti teorimu itu
lemah dong” sahutku kalaitu. “ ah bukan teoriku yang lemah, tapi kau
aja yang lemah !”
Campakkan saja, repot amat kau ini!kau lelaki
mapan dan keren bung, banyak yang antri !! hmmmm benar juga provokasi
kawan yang ceplas-ceplos itu. Campakkan saja, beres! Tendang aja, emang
kenapa? Toh diluar sana bener-bener memang sangat banya gadis dan janda
yang siap ku tunjuk kapanpun dan ku gandeng, ku bawa kemana aja, ku
apain sesukaku!
Hingga pukul 02.00 WIB dini hari, aku blum juga
bisa terlelap. Aku benar-benar merasa sendiri dan terasing diantara
sikapnya yang maha menyebalkan itu. Baik, baik, gumamku, kali ini
tiadaampun bagimu! Tiada maaf bagimu! Kau akan tahu btapa ku sungguh
sangat lelaki. Kau akan menyesal, mengemis-ngemis ampunanku agar aku
tidak mecampakkanmu besok. Pekikku dalam hati.
Ku bakar sebatang
rokok, kunyalakan TV lagi. Dari ruang tengah ini ku dengar suara
dengkuranya yang begitu teratur. Ia telah lama lelap, bgitu pulas,
seolah-olah nggak ada sesuatu pun yg mengganggu pikirannya,hatinya
apalagi membebani dengkur malamnya. Sementara aku disini sendiri,
gara-gara dia tuh. Sambil menghisap rokok yg sungguh terasa nggak
nikmat lagi ini, beberapa wajah silih berganti melintasi otakku. Ada
begitu banyak wajah yg mendera memoriku. Dan, di antara semua wajah yg
aku bayangkan, hanya wajah perempuan yg sedang mendengkur itulah yg
begitu memuakkan. Yg lainnya begitu manis, ramah, penuh makna,
simmpati, selalu ada perhatian, sayang, dan tampak sempurna mendudukkan
aku sebagai lelaki sejati.
“ bangun, dah agak siang ini, belum
shalat subuh tho..” lamat, suara itu menyelinap kegendang telingaku.
ayo bangun, shalat dulu..” suaranya begitu amat kukenal. Lekat sekali.
Sehari-hari begituku hafal. Kupaksa mataku membuka, menoleh jam dinding
astaghfirullah sudah pkul 05.25 WIB. “daritadi kubangunin nggak
bangun-bangun, tidurnya jam berapa tho mas?”suaranya menyelinap lagi ke
selasar telingaku.
Aku bangkit segera menuju kamar mandi, berwudu
tanpa menjawab pertanyaannya. Lalu aku shalat. Sambil menghitung biji
tasbih ini. wajahnya yang pertama kali ku tangkap saat bangun tidur
berkali-kali di otakku. Hanya dia yang ada pertama kali aku bangun,
membuka mata. Ya, hanya dia juga yang membangunkaku,pasti shalat subuh.
Kalau nggak ada dia, pasti shalat subuhku bablas.
“nih kopinya di
meja computer …” suaranya terdengar lagi, lalu kudengar lagi langkah
kakinya menuju dapur.sejurus kemudian, terdengar suara kompor gas
dinyalakan, keran berkecipak, panik beradu,piring bergemerincing dan
seterusnya. Sepagi ini dia telah begitu sibuk dengan rutinitas
hariannya. Saat aku melangkah menuju kamar belakang, ke meja
komputerku, sempat kulirik tubuhnya yang telah tenggelam di dapur itu.
Hafal betul aku dengan siklus ini, kira-kira sejam kemudian dia akan
memenggilku “ sarapannya sudah siap, mau disini atau di meja computer…”
Ku
seruput kopiku, mataku masih agak pedas kurang tidur. Ku geletakkan
tubuhku di sofa dekat meja komputerku, kubakar sebatang rokok, mataku
menerwang ke langit-langit. Suara kesibukan memasak di dapur masih
menyeruak gendang telingaku. Makin lamat makin lamat ku matikan rokokku
sejenak lalu aku benar-benar terkapar pulas lagi.
“ lho kok nggak
jadi nulisnya..?” suaranya membangunkaku. Tangannya menyibak rambutku
yang terjuntai ke dahiku. Kurasakn tangan agak dingin lantaran masih
basah. “itu sarapannya sudah siap, mau di meja computer atau di meja
makan?”. Aku diam tak menyahut, hanya bangkit menuju ke meja makan.
Tangkas, ia menyerahkan piring ke arahku, mengisinya dengan segumpal
nasi yang mengepul panas, menambahinya dengan lauk, sambal juga krupuk.
Tangannya begitu lincah melakukan semua itu.
Sambil melahap suapan
pertamaku, dengan tetap membisu aku berpikir bahwa niscaya pagi ini aku
nggak akan shalat subuh, minum kopi, dan sarapan panas begini jika
tidak ada dia dirumah ini. Kutelan suapan yang ketiga, ia masih duduk
di sebelahku, sesekali menambahkan lauk kepiringku, sesekali menawarkan
air minum. Andai aku menceraikannya tadi malam, tiga kali sekaligus
sesuai dengan rencanaku semalam agar tidak ada lagi peluang rujuk
dengannya, agar tahu rasa, nyahok, mengemis-ngemis ampunku, ibaku agar
dia tahu aku lelaki sejati yang nggak sudi di abaikan dilecehkan oleh
istri dirumah yang kucukupi semua kebutuhan hidupnya, niscaya pagi ini
nggak akan ada shalat subuh, kopi dan sarapan panas begini dimejaku.
Usai
menuntaskan sarapanku, aku beranjak ke meja kompter. Ku dengar suara
kesibukkannya membereskan bekas makananku. Aku terdiam begitu lama di
depan monitor in, tanganku membisu di atas tuts keyboard ini, tak ada
kata-kata yang bisa mengalir dari hatiku. Silih berganti wajah-wajah
itu mengisi jiwaku.
Jangan-jangan ada masalah dengan egoku ya??
Bisikku pula dalam hatiku sendiri. Mungkin saja kan dia semalam
kecapaian, kelelahan, ngantuk berat, dan tanpa sadar dan berpikir
apapun, spontan bibirnya menyahut “ Malassss…..” begitu. Bukankah aku
sangat mungkin mengatakan hal yang sama, bahkan lebih ketus saat aku
merasa lelah, capek dan ngantuk berat ya ? bukankah sesungguhnya dia
pun patut mengataiku sebagai yang maha menyebalkan juga ya? Tapi,
bukankan dia tetap selalu ada untukku, menemaniku, membuatkanku kopi,
saparan, membereskan bekas makanku dan sebagainya selama ini, kendati
aku telah begitu menyebalkan di hatinya dalam bentuk yang sangat
beragam.
Ah, jangan jangan memang aku ini sebenarnya lebih sering
membuatnya sebal dan benci ya? Iihhh malu sekali aku pagi ini.
Arogannya aku.
Maafkan aku…..
Aku sayang kamu…
Aku butuh kamu…
Tiga
baris kalimat itu saja yang berhasil mengalir dari hatiku pagi ini.
Kumatikan komputerku lalu aku beranjak kekamar. Kulihat dia telah rapi
dan wangi. “ jadi nggak nanti mas, katanya mau facial?”
Aku mengangguk “ aku sendirian aja. Nggak apa apa”
“udah toohhh, ku temenin aja”
“ tapi kan lama..”
“ nggak pa pa….”
Andai
saja dia yang facial, dan aku nggak ada tujuan apapun di salon mahal
itu, maka dengan sangat cepat dan mantap pasti kujwab “ Nggak..!!”
Sementara dia, dengan bahasa sumringah dan mimik tulus, yakin berkata “ Udah toohhh kutemenin aja…” dan Nggak pa pa..”
Oh My God..!!!!!!
"Andai aku jalan kaki, masihkah engkau selalu ada untukku?"
mungkin ini sebuah s9ndiran, sapaan, atau peringatan atau apalah what ever you say.. yang jelas aku ga bermaksud gmn2. aku juga ga punya niatan yag jelek. ini karena aku sayang kamu. karena aku tersentuh oleh mu dan juga karena aku ga bisa jauh dari kamu. aa yang aku lakukan itu untuk orang2 terkasihku termasuk juga kamu. toloonngg.... sedikit saja rasakan cintaku, sayangku dan kasih dengan hatimu. bukan dengan mata dan teingamu saja. aku hanya ingin kamu... bukan yang lain.. jangan pernah melangkah mundur dari sampingku. itu hanya membuatku sakit, membuatku tak berdaya...
saat ini aku cukup takut dengan gelap. itu semua juga karena aku terlalu memikirkan apa yang menjadi keputusanmu tempo hari. gelap hanya akan membuatku berangan yang tidak2 tentangmu.. aku takut.. setiap malam aku terjaga dalam sinar lampu yang menyala.. panas.. yaaahh memang terasa panas ruangan ini dengan nyala lampu yang begitu terang... aku takut gelap. aku takut karena dalam gelap tak ada dirimu yang menemaniku.
aku benci malam. dulu aku sangat ska malam. karena ketika malam, aku bisa bertemu denganmu, berkomunikasi denganmu walau dalam dunia maya... tapi sekarang?? malam hanya membuatku sendiri dan tak berkutik lagi. hanya lembaran2 kertas yang menemaniku, hanya sinar lampu yang menyapaku dan... hanya dingin yang menghampiriku. aku bercerita pada angin, aku menghela nafas disaksikan dedaunan, aku mengeluh pada kertas, aku ...... aku hanya bisa meneteskan air mata di depan cermin dan mempermalukan diriku sendiri karena aku yang cengeng. aku yang tak survive lagi.
sayang.... aku disini. disni menunggu kau jemput. jemputlah aku suatau saat nanti. aku lelah sayang..
I LOVE YOU ... :)