Senin, 19 Desember 2011

yang maha menyebalkan !!!!!!!!

Huhhhh! Rasanya pengen kuhajar habis-habisan nih orang! Amat sangat super duper menyebalkan! Maha menyebalkan! Kalau ada ungkapan atau diksi lain yang lebih tinggi dari kata “Maha” untuk menunjukkan suatu nilai yang paling tinggi, pasti ku gunanakn kata itu. Pendek kata, sudah tak ada secuil pun yang patut kubanggakan dan ku perhitungkan. Bahkan di mataku kini, di hatiku, ia nggak lebih dari seonggok daging tambun yang amat menjijikkan, jelek, bau, dengan gaya bicara yang nyeplos sekena mulut keringnya, nggak peduli aku ini tersinggung atau enggak, terasa nylekit atau enggak, pokoknya seenak perutnya sendiri! kalau diajak berpikir tentang sesuatu, seremeh apapun, mesti bibirnya manyun, dahinya berkerut-kerut, ndomblong, persis kaleng rongsok yg bungkam membisu nunggu ditabuh untun mengeluarkan suara krompyang yang sangat cempreng dan memekakkan telinga! Pikirannya cupet, cara bicaranya ra mutu blas,penampilannya sangat tidak ada indah-indahnya untuk dipelototi.
Ah, sementara penampilanku kata banyak orang sih begitu tampan, wangi. Gaya bicaraku dan bahasa tubuhku kata mereka lagi sih begitu smart, elegan, penuh chemistry, misteri sekaligus magnet berdaya sedot sangat tinggi.
Nggak heran kalau banyak yang klepek-klepek ma kamu tuh, kata temanku. Kepalaku sprti menggelembung bak balon di hembus oksigen. "liat aja tuh cewek di sebelah kanan pojok itu, yang pake lekton itu, dari tadi dia ngelirik kesini terus. Ya ke kamu ini” lanjutnya.
Aku melirik ke arah yang di tunjukkan temanku. Hmmmmm, si lekton (kelek katon alias you can see my ketek, its open up to you all)itu, dengan asap rokok yang menari-nari dari hembusan bibirnya yang merah seksi itu. Memang nggak cuma kamu kok yang bilang gitu pren, gumamku. Juga bukan hanya cewek trendi itu doang yang melirik penuh syahwat begitu padaku. Banyak banget di luaran sana! Berkarung-karung deh kalo mau di karungin.
Sementara disini, ah, sungguh menyebalkan kelakuan dan penampilan orang rumahku itu. Yang gini-gini nih, nggak hanya sekali ini, ratusan kali deh. Aku bertahan sejauh ini dengannya entah untuk apa dan mengapa juga aku nggak begitu ngerti juga kadang. Padahal beratus-ratus kali aku bertabrakan dengan egonya yang menggila yang sungguh keras kepala.
Jujur nih, semalam nyaris aja aku mencukupkan semua sampai disini. Jengkelku meledak tinggi, egoku memekik. Bayangkan, mana bisa tahan seorang lelaki yang normal, yang telah merasa memberikan segala terbaik untuknya, yang nggak pernah bilang nggak punya atas segala pintanya, hnya karena minta dibuatkn mi goreng telur yg semua bahannya sudah tersedia komplit, eh.. malah di cuekkin. Nggak di anggep blas! Nyakitin gak? Nyebelin gak? Nyebahi mboten tho??? Banget banget nget nget nget…. Bahkan sampai merasuk panas ke pangkal perutku. Betul-betul sikap acuh yang luar biasa melecehkan harga diri dan kemuliaanku sebagai sang imam disini!
Kukira dia nggak dengar, jadi dengan nada agak tinggi kuulangi permintaanku, “denger gak sih?” ohmy God! Tau nggak, gimana mulut samber nyahut “Males..”. iiiihhhhhh …..!!!!!! aku hanya bisa mendengus menahan murka atas pelecehan tak terperikan ini! Paling jauh aku hanya memukul-mukul bantal.

Dan, maam itu aku memutuskan diam. Membekapkan diri dalam sunyi mencekam, ditingkahi gemuruh dada yang menghalilintar. Aku terasa sepi dalam kesendirian begini, hanya suara egoku yang begitu ramai berisik penuh amarah ! saat-saat seperi ini menderu, diam-diam kian terngiang bisikan penuh semangat temanku yang berbadan gagah, yang telah berkali-kali nikah cerai itu. “ wanita itu, asal kau buat tergantung kebutuhannya padamu, selesailah dia mau kau jadikan apa aja. Apapun kawan !!”
“kalau ternyata nggak bisa, berarti teorimu itu lemah dong” sahutku kalaitu. “ ah bukan teoriku yang lemah, tapi kau aja yang lemah !”
Campakkan saja, repot amat kau ini!kau lelaki mapan dan keren bung, banyak yang antri !! hmmmm benar juga provokasi kawan yang ceplas-ceplos itu. Campakkan saja, beres! Tendang aja, emang kenapa? Toh diluar sana bener-bener memang sangat banya gadis dan janda yang siap ku tunjuk kapanpun dan ku gandeng, ku bawa kemana aja, ku apain sesukaku!

Hingga pukul 02.00 WIB dini hari, aku blum juga bisa terlelap. Aku benar-benar merasa sendiri dan terasing diantara sikapnya yang maha menyebalkan itu. Baik, baik, gumamku, kali ini tiadaampun bagimu! Tiada maaf bagimu! Kau akan tahu btapa ku sungguh sangat lelaki. Kau akan menyesal, mengemis-ngemis ampunanku agar aku tidak mecampakkanmu besok. Pekikku dalam hati.
Ku bakar sebatang rokok, kunyalakan TV lagi. Dari ruang tengah ini ku dengar suara dengkuranya yang begitu teratur. Ia telah lama lelap, bgitu pulas, seolah-olah nggak ada sesuatu pun yg mengganggu pikirannya,hatinya apalagi membebani dengkur malamnya. Sementara aku disini sendiri, gara-gara dia tuh. Sambil menghisap rokok yg sungguh terasa nggak nikmat lagi ini, beberapa wajah silih berganti melintasi otakku. Ada begitu banyak wajah yg mendera memoriku. Dan, di antara semua wajah yg aku bayangkan, hanya wajah perempuan yg sedang mendengkur itulah yg begitu memuakkan. Yg lainnya begitu manis, ramah, penuh makna, simmpati, selalu ada perhatian, sayang, dan tampak sempurna mendudukkan aku sebagai lelaki sejati.
“ bangun, dah agak siang ini, belum shalat subuh tho..” lamat, suara itu menyelinap kegendang telingaku. ayo bangun, shalat dulu..” suaranya begitu amat kukenal. Lekat sekali. Sehari-hari begituku hafal. Kupaksa mataku membuka, menoleh jam dinding astaghfirullah sudah pkul 05.25 WIB. “daritadi kubangunin nggak bangun-bangun, tidurnya jam berapa tho mas?”suaranya menyelinap lagi ke selasar telingaku.
Aku bangkit segera menuju kamar mandi, berwudu tanpa menjawab pertanyaannya. Lalu aku shalat. Sambil menghitung biji tasbih ini. wajahnya yang pertama kali ku tangkap saat bangun tidur berkali-kali di otakku. Hanya dia yang ada pertama kali aku bangun, membuka mata. Ya, hanya dia juga yang membangunkaku,pasti shalat subuh. Kalau nggak ada dia, pasti shalat subuhku bablas.
“nih kopinya di meja computer …” suaranya terdengar lagi, lalu kudengar lagi langkah kakinya menuju dapur.sejurus kemudian, terdengar suara kompor gas dinyalakan, keran berkecipak, panik beradu,piring bergemerincing dan seterusnya. Sepagi ini dia telah begitu sibuk dengan rutinitas hariannya. Saat aku melangkah menuju kamar belakang, ke meja komputerku, sempat kulirik tubuhnya yang telah tenggelam di dapur itu. Hafal betul aku dengan siklus ini, kira-kira sejam kemudian dia akan memenggilku “ sarapannya sudah siap, mau disini atau di meja computer…”
Ku seruput kopiku, mataku masih agak pedas kurang tidur. Ku geletakkan tubuhku di sofa dekat meja komputerku, kubakar sebatang rokok, mataku menerwang ke langit-langit. Suara kesibukan memasak di dapur masih menyeruak gendang telingaku. Makin lamat makin lamat ku matikan rokokku sejenak lalu aku benar-benar terkapar pulas lagi.
“ lho kok nggak jadi nulisnya..?” suaranya membangunkaku. Tangannya menyibak rambutku yang terjuntai ke dahiku. Kurasakn tangan agak dingin lantaran masih basah. “itu sarapannya sudah siap, mau di meja computer atau di meja makan?”. Aku diam tak menyahut, hanya bangkit menuju ke meja makan. Tangkas, ia menyerahkan piring ke arahku, mengisinya dengan segumpal nasi yang mengepul panas, menambahinya dengan lauk, sambal juga krupuk. Tangannya begitu lincah melakukan semua itu.
Sambil melahap suapan pertamaku, dengan tetap membisu aku berpikir bahwa niscaya pagi ini aku nggak akan shalat subuh, minum kopi, dan sarapan panas begini jika tidak ada dia dirumah ini. Kutelan suapan yang ketiga, ia masih duduk di sebelahku, sesekali menambahkan lauk kepiringku, sesekali menawarkan air minum. Andai aku menceraikannya tadi malam, tiga kali sekaligus sesuai dengan rencanaku semalam agar tidak ada lagi peluang rujuk dengannya, agar tahu rasa, nyahok, mengemis-ngemis ampunku, ibaku agar dia tahu aku lelaki sejati yang nggak sudi di abaikan dilecehkan oleh istri dirumah yang kucukupi semua kebutuhan hidupnya, niscaya pagi ini nggak akan ada shalat subuh, kopi dan sarapan panas begini dimejaku.
Usai menuntaskan sarapanku, aku beranjak ke meja kompter. Ku dengar suara kesibukkannya membereskan bekas makananku. Aku terdiam begitu lama di depan monitor in, tanganku membisu di atas tuts keyboard ini, tak ada kata-kata yang bisa mengalir dari hatiku. Silih berganti wajah-wajah itu mengisi jiwaku.
Jangan-jangan ada masalah dengan egoku ya?? Bisikku pula dalam hatiku sendiri. Mungkin saja kan dia semalam kecapaian, kelelahan, ngantuk berat, dan tanpa sadar dan berpikir apapun, spontan bibirnya menyahut “ Malassss…..” begitu. Bukankah aku sangat mungkin mengatakan hal yang sama, bahkan lebih ketus saat aku merasa lelah, capek dan ngantuk berat ya ? bukankah sesungguhnya dia pun patut mengataiku sebagai yang maha menyebalkan juga ya? Tapi, bukankan dia tetap selalu ada untukku, menemaniku, membuatkanku kopi, saparan, membereskan bekas makanku dan sebagainya selama ini, kendati aku telah begitu menyebalkan di hatinya dalam bentuk yang sangat beragam.
Ah, jangan jangan memang aku ini sebenarnya lebih sering membuatnya sebal dan benci ya? Iihhh malu sekali aku pagi ini. Arogannya aku.

Maafkan aku…..
Aku sayang kamu…
Aku butuh kamu…
Tiga baris kalimat itu saja yang berhasil mengalir dari hatiku pagi ini. Kumatikan komputerku lalu aku beranjak kekamar. Kulihat dia telah rapi dan wangi. “ jadi nggak nanti mas, katanya mau facial?”
Aku mengangguk “ aku sendirian aja. Nggak apa apa”
“udah toohhh, ku temenin aja”
“ tapi kan lama..”
“ nggak pa pa….”
Andai saja dia yang facial, dan aku nggak ada tujuan apapun di salon mahal itu, maka dengan sangat cepat dan mantap pasti kujwab “ Nggak..!!”
Sementara dia, dengan bahasa sumringah dan mimik tulus, yakin berkata “ Udah toohhh kutemenin aja…” dan Nggak pa pa..”
Oh My God..!!!!!!
"Andai aku jalan kaki, masihkah engkau selalu ada untukku?"







mungkin ini sebuah s9ndiran, sapaan, atau peringatan atau apalah what ever you say.. yang jelas aku ga bermaksud gmn2. aku juga ga punya niatan yag jelek.  ini karena aku sayang kamu. karena aku tersentuh oleh mu dan juga karena aku ga bisa jauh dari kamu. aa yang aku lakukan itu untuk orang2 terkasihku termasuk juga kamu. toloonngg.... sedikit saja rasakan cintaku, sayangku dan kasih dengan hatimu. bukan dengan mata dan teingamu saja. aku hanya ingin kamu... bukan yang lain.. jangan pernah melangkah mundur dari sampingku. itu hanya membuatku sakit, membuatku tak berdaya...


saat ini aku cukup takut dengan gelap. itu semua juga karena aku terlalu memikirkan apa yang menjadi keputusanmu tempo hari. gelap hanya akan membuatku berangan yang tidak2 tentangmu..  aku takut.. setiap malam aku terjaga dalam sinar lampu yang menyala.. panas.. yaaahh memang terasa panas ruangan ini dengan nyala lampu yang begitu terang... aku takut gelap. aku takut karena dalam gelap tak ada dirimu yang menemaniku.

aku benci malam. dulu aku sangat ska malam. karena ketika malam, aku bisa bertemu denganmu, berkomunikasi denganmu walau dalam dunia maya... tapi sekarang?? malam hanya membuatku sendiri dan tak berkutik lagi. hanya lembaran2 kertas yang menemaniku, hanya sinar lampu yang menyapaku dan... hanya dingin yang menghampiriku. aku bercerita pada angin, aku menghela nafas disaksikan dedaunan, aku mengeluh pada kertas, aku ...... aku hanya bisa meneteskan air mata di depan cermin dan mempermalukan diriku sendiri karena aku yang cengeng. aku yang tak survive lagi.
sayang.... aku disini. disni menunggu kau jemput. jemputlah aku suatau saat nanti. aku lelah sayang..

I LOVE YOU ... :)
Ara


 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar