Hari
itu adalah hari kegalauan tingkat tinggi dalam hidup. Melakukan aktivitas
apapun rasanya percuma. Aku melihat sekeliling kampus, ternyata sudah sepi. Bukan
karena saat itu jam kuliah, tapi karena sudah banyak teman yang se angkatan
denganku yang jarang pergi ke kampus. Semester tua adalah saat2 dimana
mahasiswa mengalami Desperate tingkat nasional. Banyak teman2 yang sudah
melakukan penelitian, tapi banyak juga yang belum dan mereka bersantai ria. Tidak
sepertiku, belum melakukan penelitian tapi juga galau.
“wis semester tuwo iki, thek awak e dewe durung
persiapan skripsi” kata ulfa yang tiba2 membuyarkan lamunanku.
“ayo
nang GM pil !” kataku.
Aku memanggilnya
dengan sebutan upil. Namanya ulfa, dia ga tinggi2 amat makanya aku memanggilnya
dengan sebutan upil walaupun dia berkulit putih. Begitu pula sebaliknya, dia
memanggil aku dengan sebutan MBER. Aku sendiri gak tau apa artinya,yang jelas
itu sebutan namaku sejak aku duduk di bangku SMA.
“ayo mber, mangkat saiki wae”. Upil bergegas
meninggalkan biola cantik (depan lapangan basket di kampusku) dan aku pun
mengikutinya dari belakang.
Tiba
di GM, “ngeleh pil,madhang sik ya”
saranku. Upil menyetujuinya.
Setelah
memesan beberapa makan siang, kita berdua duduk dan menunggu pesanan itu datang.
Saat itu foodcourt rame dengan pengunjung karena jam makan siang. Banyak pengunjung
yang tampak berpenampian modis. Para wanita banyak yang memakai rok pendek,
blazer, sepatu pantofel hak tinggi sedangkana para pria memakai kemeja engan
panjang, celana kain dan sepatu pantofel. Penampilan mereka sempat membuat aku
iri. Dalam hati, aku ingin seperti mereka yang sudah memiliki penghasilan. Bias
membeli apa saja dengan uang merek sendiri. Sempt aku berpikir, apa mereka juga
dulunya mengalami kegalauan yagsama sepertiku? Yaaahh sudahlah semua itu hrarus
dilakukan step by step, hiburku dalam hati.
“ piye ya pil kok durung onok dosen sing
ngajak nggarap proyek” aku memulai pembicaraan. upil hanya mengangkat bahu,
“ opo
njaluk tolong si galih wae yaa kon nggolekno pandangan sopo dosen sing duwe
proyek trus awak e dewe nembusi dewe nang dosen e” saranku.
“yo
aku tak ngomong nang galih mengko, njaluk tolong nang galih. Saiki ayo nang
Matahari golek diskonan mugo2 gak kalap. hehehehe” ajak upil.
Di Matahari
rasa tak tenang masih ada di hati kita berdua. Biasanya kita selalu melihat2
baju dengan diskon besar yang ada di keranjang, tapi saat itu tak ada gairah. Rasanya
ada yang mengganjal di hati. Akhirnya kita memutuskan untuk pulang karena sudah
terlalu lama di GM.
Karena
di landa rasa tak sabar,maka sepulang dari GM kita menuju ke kost Galih yang
kebetulan se kost dengan Upil. Setelah membicarakan maksud dan tujuan, Galih
pun menyanggupi untuk menolong kita berdua.
***
Keesokan
Harinya
“Mber
Mber, Bu Tutik duwe Proyek penelitian, butuh 2 mahasiswa, gek ndang di tembusi”
kata Galih.
“OKE
SIP “ kataku sambil mengacungkan jempol. Hari itu juga kita berdua
menghadap Bu Tutik untuk menanyakan proyek dan Bu Tutik menerima kita untuk
bergabung.
Alhamdulillah,
ada sedikit kelegaan dalam hati. Paling tidak sudah ada pandangan apa yang akan
dilakukan untuk pertama kali. Ada gambaran bagaimana skripsi ini akan berjalan.
Terima Kasih Tuhan