Selasa, 08 Oktober 2013

Pencerahan di Grand Mall



Hari itu adalah hari kegalauan tingkat tinggi dalam hidup. Melakukan aktivitas apapun rasanya percuma. Aku melihat sekeliling kampus, ternyata sudah sepi. Bukan karena saat itu jam kuliah, tapi karena sudah banyak teman yang se angkatan denganku yang jarang pergi ke kampus. Semester tua adalah saat2 dimana mahasiswa mengalami  Desperate  tingkat nasional. Banyak teman2 yang sudah melakukan penelitian, tapi banyak juga yang belum dan mereka bersantai ria. Tidak sepertiku, belum melakukan penelitian tapi juga galau.
 wis semester tuwo iki, thek awak e dewe durung persiapan skripsi” kata ulfa yang tiba2 membuyarkan lamunanku.
ayo nang GM pil !” kataku.
Aku memanggilnya dengan sebutan upil. Namanya ulfa, dia ga tinggi2 amat makanya aku memanggilnya dengan sebutan upil walaupun dia berkulit putih. Begitu pula sebaliknya, dia memanggil aku dengan sebutan MBER. Aku sendiri gak tau apa artinya,yang jelas itu sebutan namaku sejak aku duduk di bangku SMA.
 ayo mber, mangkat saiki wae”. Upil bergegas meninggalkan biola cantik (depan lapangan basket di kampusku) dan aku pun mengikutinya dari belakang.
Tiba di GM,  ngeleh pil,madhang sik ya” saranku. Upil menyetujuinya.
Setelah memesan beberapa makan siang, kita berdua duduk dan menunggu pesanan itu datang. Saat itu foodcourt rame dengan pengunjung karena jam makan siang. Banyak pengunjung yang tampak berpenampian modis. Para wanita banyak yang memakai rok pendek, blazer, sepatu pantofel hak tinggi sedangkana para pria memakai kemeja engan panjang, celana kain dan sepatu pantofel. Penampilan mereka sempat membuat aku iri. Dalam hati, aku ingin seperti mereka yang sudah memiliki penghasilan. Bias membeli apa saja dengan uang merek sendiri. Sempt aku berpikir, apa mereka juga dulunya mengalami kegalauan yagsama sepertiku? Yaaahh sudahlah semua itu hrarus dilakukan step by step, hiburku dalam hati.
 piye ya pil kok durung onok dosen sing ngajak nggarap proyek” aku memulai pembicaraan. upil hanya mengangkat bahu,
opo njaluk tolong si galih wae yaa kon nggolekno pandangan sopo dosen sing duwe proyek trus awak e dewe nembusi dewe nang dosen e” saranku.
yo aku tak ngomong nang galih mengko, njaluk tolong nang galih. Saiki ayo nang Matahari golek diskonan mugo2 gak kalap. hehehehe” ajak upil.
Di Matahari rasa tak tenang masih ada di hati kita berdua. Biasanya kita selalu melihat2 baju dengan diskon besar yang ada di keranjang, tapi saat itu tak ada gairah. Rasanya ada yang mengganjal di hati. Akhirnya kita memutuskan untuk pulang karena sudah terlalu lama di GM.
Karena di landa rasa tak sabar,maka sepulang dari GM kita menuju ke kost Galih yang kebetulan se kost dengan Upil. Setelah membicarakan maksud dan tujuan, Galih pun menyanggupi untuk menolong kita berdua.
***
Keesokan Harinya
Mber Mber, Bu Tutik duwe Proyek penelitian, butuh 2 mahasiswa, gek ndang di tembusi” kata Galih.
OKE SIP “ kataku sambil mengacungkan jempol. Hari itu juga kita berdua menghadap Bu Tutik untuk menanyakan proyek dan Bu Tutik menerima kita untuk bergabung.
Alhamdulillah, ada sedikit kelegaan dalam hati. Paling tidak sudah ada pandangan apa yang akan dilakukan untuk pertama kali. Ada gambaran bagaimana skripsi ini akan berjalan. Terima Kasih Tuhan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar